IDENTIFIKASI PENINGGALAN BUDAYA
UPACARA PANJALU
DISUSUN KELOMPOK 1 :
1.
MAYA MAYSHINTA
2.
NINA MELANTIKA
3.
SITI MARYANTI
4.
RIKA MEILANI
KELAS :
IX.6
SMP NEGERI 1 LURAGUNG
2015
Alamat
: Jln. Raya Luragung No.03 Kuningan 45581 Telp/Faks.0232.870159
KATA
PENGANTAR
Puji syukur mari kita panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan anugerah dan nikmat-Nya sehingga
makalah PLH tentang mengidentifikasi peninggalan buadaya
upacara panjalu terselesaikan tepat dengan waktu yang diharapkan.
Makalah ini dibuat dengan tujuan
untuk memenuhi tugas PLH, dengan tujuan
agar siswa dan siswi memahami dan mengetahui materi dari makalah
tersebut.
Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada guru PLH yang senantiasa mendampingi dan
membimbing kami dalam penyusunanan makalah ini. Tak lupa kami mengucapkan
segenap rasa terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan dan
semangatnya kepada kami.
Tentunya makalah ini masih jauh dari kata sempurna , saran
dan kritik yang sifatnya membangun
sangat kami
harapkan.
Akhirnya, semoga makalah ini bisa menjadi referensi dalam
pembelajaran PLH di dalam
kelas.
IDENTIFIKASI PENINGGALAN BUDAYA
UPACARA PANJALU
TEMA :
UPACARA PANJALU, CIAMIS JAWABARAT.
1.
WHAT (APA)
A.
Nama
Upacara
adat Panjalu adalah Nyangku berasal dari kata yanko(bahasa arab) yang artinya
membersihkan.
B.
Peralatan
Rombongan pembawa pusaka mengenakan
pakaian muslimin dan muslimah beserta pakaian adat Sunda dengan berjalan kaki
bersamaan dari Bumi Alit atau rumah penyimpanan benda pusaka menuju Situ
Lengkong, kembali ke alun-alun dan disimpan di Bumi Alit.
2.
WHO (SIAPA)
Yang
disakralkan masyakat Ciamis khususnya masyarakat Panjalu dan keturunan Raja
Panjalu dan dipimpin oleh sesepuh panjalu bapak R.H.Atong Cakradinata.
3.
WHERE (DIMANA)
Dilaksanakan
di Alun-alun Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
4.
WHEN (KAPAN)
Diadakan
satu kali dalam setahun, yaitu pada bulan Rabiul Awal tahun Hijriyah minggu
terakhir yang biasa dilaksanakan pada hari Senin atau hari Kamis.
5. WHY
(MENGAPA)
Membersihkan
benda pusaka peninggalan Raja Panjalu setelah melakukan ziarah ke makam Prabu
Hariang Kencana putra dari Hariang Borosngora Raja Panjalu yang dimakamkan di
Situ Lengkong, Panjalu.
6. BAGAIMANA
(HOW)
Benda -benda pusaka itu dikeluarkan dari tempat
penyimpanannya di Pasucian Bumi Alit lalu dikirabkan menuju Nusa Larang Situ
Lengkong. Sesampainya di Nusa Larang, arak-arakan melakukan ritual pembacaan
doa bagi arwah leluhur Panjalu untuk menghormati jasa-jasa mereka di hadapan
pusara Prabu Rahyang Kancana. Benda-benda pusaka itu kemudian diletakan diatas
alas kasur yang khusus disediakan untuk upacara Nyangku ini.
PROSESI
UPACARA
Pada prosesi ini benda-benda
pusaka itu dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di Pasucian Bumi Alit lalu
dikirabkan menuju Nusa Larang Situ Lengkong. Sesampainya di Nusa Larang,
arak-arakan melakukan ritual pembacaan doa bagi arwah leluhur Panjalu untuk
menghormati jasa-jasa mereka di hadapan pusara Prabu Rahyang Kancana.
Benda-benda pusaka itu kemudian diletakan diatas alas kasur yang khusus
disediakan untuk upacara Nyangku ini. Setelah itu, benda-benda pusaka diarak
kembali dengan sangat hati-hati menuju tempat upacara. Benda-benda itu
digendong, tak ubahnya menggendong anak bayi diiringi tetabuhan gembyung dan
teriakan sholawat. Rombongan yang terdiri dari tokoh masyarakat dan sesepuh
Panjalu berjalan dalam deretan paling depan diiring pembawa benda pusaka dan
penabuh kesenian gembyung. Ratusan pengiring lainnya berada dalam barisan paling
belakang mengantarkan perjalanan benda pusaka tersebut ke tempat upacara di
halaman kantor Desa Panjalu.
Puncak upacara, yang
sekaligus merupakan saat yang paling dinantikan, ditandai dengan pembersihkan
benda pusaka tersebut menggunakan air yang diambil dari sembilan sumber mata
air berbeda yang diambil dari daerah yang berbeda yang dicampur jeruk nipis.
Dimulai dengan pedang pusaka Prabu Sanghyang Borosngora dan dilanjutkan dengan
pusaka-pusaka yang lain. Di bawah panggung bambu yang digunakan sebagai tempat
mencuci benda-benda pusaka tersebut, ratusan penduduk mengulurkan tangannya,
mengharapkan sisa air yang digunakan mencuci benda pusaka. Mungkin dan sangat
boleh jadi mereka mengharapkan berkah di saat menghadapi lilitan kesulitan
ekonomi dan berbagai macam bencana lainnya seperti sekarang ini. Tahap akhir,
setelah benda-benda pusaka itu selesai dicuci lalu diolesi dengan minyak kelapa
yang dibuat khusus untuk keperluan upacara ini, kemudian dibungkus kembali
dengan cara melilitkan janur (daun kelapa muda) lalu dibungkus lagi dengan
tujuh lapis kain putih dan diikat dengan memakai tali dari benang putih (boeh).
Setelah itu baru kemudian dikeringkan dengan asap kemenyan lalu diarak untuk
disimpan kembali di Pasucian Bumi Alit.
Upacara Nyangku dimulai sekitar
jam 07.00 WIB dengan mengeluarkan benda-benda pusaka peninggalan Raja Panjalu
Borosngora, seperti pedang, keris, kujang dari Bumi Alit. Perlakuan khusus
diberikan pada pedang yang konon merupakan pemberian Sayyidina Ali (sahabat
Nabi Muhammad saw.) ketika Borosngora berkunjung ke Mekah. Borosngora, Raja
Panjalu yang arif dan bijaksana dianggap sebagai leluhur masyarakat Panjalu dan
penyebar agama Islam pertama di daerah Panjalu. Benda-benda peninggalannya
selama ini tetap terjaga, disimpan dan dirawat dengan baik di Bumi Alit,
bangunan kecil berbentuk panggung di dekat Alun-alun Panjalu. Tradisi Nyangku
ini mirip dengan upacara Sekaten di Yogyakarta juga Panjang Jimat di Cirebon,
hanya saja selain untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, acara
Nyangku juga dimaksudkan untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora yang
telah menyampaikan ajaran Islam kepada rakyat dan keturunannya.
Tradisi Nyangku ini konon telah dilaksanakan sejak zaman pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora, pada waktu itu, Sang Prabu menjadikan prosesi adat ini sebagai salah satu media Syiar Islam bagi rakyat Panjalu dan sekitarnya.Masyarakat Panjalu maupun keturunan Panjalu yang datang dari berbagai daerah berkumpul di kampung halamannya untuk menghadiri upacara tersebut. Upacara adat Nyangku merupakan penghormatan sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasa leluhur Panjalu yang telah mendirikan negara dan menyebarkan ajaran agama Islam di tatar Galuh Ciamis di Panjalu.
PENUTUP
Puji
syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT Yang Maha Esa yang telah memberi nikmat
dan karunia nya sehingga kita diberi kesehatan jasmani maupun rohani sehingga
kita dapat menyelesaikan tugas makalah PLH dengan baik dan juga secara
bersama-sama tanpa ada kendala apapun, dengan kelompok yang sangat bekerja
sesuai pekerjaan nya yang sudah dibagi-bagi terlebih dahulu.
Dengan ada nya tugas makalah PLH ini
kita dapat mengetahui bagaimana cara mengidenifikasi peninggalan budaya yang
kami tugasi dari bapak guru tersebut. Yang dapat kelompok kami simpulkan adalah
bahwa upacara panjalu merupakan
bagian penghormatan warga Panjalu atas jasa-jasa para leluhur Panjalu, dengan
membersihkan benda pusaka yang disakralkan masyarakat Ciamis khususnya
keturunan Raja Panjalu.
Sekian
saja yang dapat kelompok kami simpulkan dan juga kelompok kami mohon di maafkan
bila ada salah kata atau cara penulisannya yang kurang baik atau kurang
tersusun rapih dan juga tidak berkenan di hati pembaca. Kurang lebihnya
kelompok kami mohon maaf.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar