Senin, 23 Maret 2015

Identifikasi Peninggalan Budaya Luhur

IDENTIFIKASI PENINGGALAN BUDAYA
UPACARA PANJALU









DISUSUN KELOMPOK 1 :
1.      MAYA MAYSHINTA
2.      NINA MELANTIKA
3.      SITI MARYANTI
4.      RIKA MEILANI
KELAS           : IX.6



SMP NEGERI 1 LURAGUNG
2015

Alamat : Jln. Raya Luragung No.03 Kuningan 45581 Telp/Faks.0232.870159





KATA PENGANTAR
Puji syukur mari kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan anugerah dan nikmat-Nya sehingga makalah PLH tentang mengidentifikasi peninggalan buadaya upacara panjalu terselesaikan tepat dengan waktu yang diharapkan.
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas PLH, dengan tujuan agar siswa dan siswi  memahami dan mengetahui materi dari makalah tersebut.
Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada guru PLH yang senantiasa mendampingi dan membimbing kami dalam penyusunanan makalah ini. Tak lupa kami mengucapkan segenap rasa terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan dan semangatnya kepada kami.
Tentunya makalah ini masih jauh dari kata sempurna , saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat kami harapkan.
Akhirnya, semoga makalah ini bisa menjadi referensi dalam pembelajaran PLH di dalam kelas.



IDENTIFIKASI PENINGGALAN BUDAYA
UPACARA PANJALU
TEMA             : UPACARA PANJALU, CIAMIS JAWABARAT.
1.      WHAT (APA)
A.    Nama
Upacara adat Panjalu adalah Nyangku berasal dari kata yanko(bahasa arab) yang artinya membersihkan.
B.     Peralatan
Rombongan pembawa pusaka mengenakan pakaian muslimin dan muslimah beserta pakaian adat Sunda dengan berjalan kaki bersamaan dari Bumi Alit atau rumah penyimpanan benda pusaka menuju Situ Lengkong, kembali ke alun-alun dan disimpan di Bumi Alit.
2.      WHO (SIAPA)
Yang disakralkan masyakat Ciamis khususnya masyarakat Panjalu dan keturunan Raja Panjalu dan dipimpin oleh sesepuh panjalu bapak R.H.Atong Cakradinata.
3.      WHERE (DIMANA)
Dilaksanakan di Alun-alun Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
4.      WHEN (KAPAN)
Diadakan satu kali dalam setahun, yaitu pada bulan Rabiul Awal tahun Hijriyah minggu terakhir yang biasa dilaksanakan pada hari Senin atau hari Kamis.
5.      WHY (MENGAPA)
Membersihkan benda pusaka peninggalan Raja Panjalu setelah melakukan ziarah ke makam Prabu Hariang Kencana putra dari Hariang Borosngora Raja Panjalu yang dimakamkan di Situ Lengkong, Panjalu.
6.      BAGAIMANA (HOW)
Benda -benda pusaka itu dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di Pasucian Bumi Alit lalu dikirabkan menuju Nusa Larang Situ Lengkong. Sesampainya di Nusa Larang, arak-arakan melakukan ritual pembacaan doa bagi arwah leluhur Panjalu untuk menghormati jasa-jasa mereka di hadapan pusara Prabu Rahyang Kancana. Benda-benda pusaka itu kemudian diletakan diatas alas kasur yang khusus disediakan untuk upacara Nyangku ini.
PROSESI UPACARA
Pada prosesi ini benda-benda pusaka itu dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di Pasucian Bumi Alit lalu dikirabkan menuju Nusa Larang Situ Lengkong. Sesampainya di Nusa Larang, arak-arakan melakukan ritual pembacaan doa bagi arwah leluhur Panjalu untuk menghormati jasa-jasa mereka di hadapan pusara Prabu Rahyang Kancana. Benda-benda pusaka itu kemudian diletakan diatas alas kasur yang khusus disediakan untuk upacara Nyangku ini. Setelah itu, benda-benda pusaka diarak kembali dengan sangat hati-hati menuju tempat upacara. Benda-benda itu digendong, tak ubahnya menggendong anak bayi diiringi tetabuhan gembyung dan teriakan sholawat. Rombongan yang terdiri dari tokoh masyarakat dan sesepuh Panjalu berjalan dalam deretan paling depan diiring pembawa benda pusaka dan penabuh kesenian gembyung. Ratusan pengiring lainnya berada dalam barisan paling belakang mengantarkan perjalanan benda pusaka tersebut ke tempat upacara di halaman kantor Desa Panjalu.
Puncak upacara, yang sekaligus merupakan saat yang paling dinantikan, ditandai dengan pembersihkan benda pusaka tersebut menggunakan air yang diambil dari sembilan sumber mata air berbeda yang diambil dari daerah yang berbeda yang dicampur jeruk nipis. Dimulai dengan pedang pusaka Prabu Sanghyang Borosngora dan dilanjutkan dengan pusaka-pusaka yang lain. Di bawah panggung bambu yang digunakan sebagai tempat mencuci benda-benda pusaka tersebut, ratusan penduduk mengulurkan tangannya, mengharapkan sisa air yang digunakan mencuci benda pusaka. Mungkin dan sangat boleh jadi mereka mengharapkan berkah di saat menghadapi lilitan kesulitan ekonomi dan berbagai macam bencana lainnya seperti sekarang ini. Tahap akhir, setelah benda-benda pusaka itu selesai dicuci lalu diolesi dengan minyak kelapa yang dibuat khusus untuk keperluan upacara ini, kemudian dibungkus kembali dengan cara melilitkan janur (daun kelapa muda) lalu dibungkus lagi dengan tujuh lapis kain putih dan diikat dengan memakai tali dari benang putih (boeh). Setelah itu baru kemudian dikeringkan dengan asap kemenyan lalu diarak untuk disimpan kembali di Pasucian Bumi Alit.
Upacara Nyangku dimulai sekitar jam 07.00 WIB dengan mengeluarkan benda-benda pusaka peninggalan Raja Panjalu Borosngora, seperti pedang, keris, kujang dari Bumi Alit. Perlakuan khusus diberikan pada pedang yang konon merupakan pemberian Sayyidina Ali (sahabat Nabi Muhammad saw.) ketika Borosngora berkunjung ke Mekah. Borosngora, Raja Panjalu yang arif dan bijaksana dianggap sebagai leluhur masyarakat Panjalu dan penyebar agama Islam pertama di daerah Panjalu. Benda-benda peninggalannya selama ini tetap terjaga, disimpan dan dirawat dengan baik di Bumi Alit, bangunan kecil berbentuk panggung di dekat Alun-alun Panjalu. Tradisi Nyangku ini mirip dengan upacara Sekaten di Yogyakarta juga Panjang Jimat di Cirebon, hanya saja selain untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, acara Nyangku juga dimaksudkan untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora yang telah menyampaikan ajaran Islam kepada rakyat dan keturunannya.


Tradisi Nyangku ini konon telah dilaksanakan sejak zaman pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora, pada waktu itu, Sang Prabu menjadikan prosesi adat ini sebagai salah satu media Syiar Islam bagi rakyat Panjalu dan sekitarnya.Masyarakat Panjalu maupun keturunan Panjalu yang datang dari berbagai daerah berkumpul di kampung halamannya untuk menghadiri upacara tersebut. Upacara adat Nyangku merupakan penghormatan sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasa leluhur Panjalu yang telah mendirikan negara dan menyebarkan ajaran agama Islam di tatar Galuh Ciamis di Panjalu.




PENUTUP
Puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT Yang Maha Esa yang telah memberi nikmat dan karunia nya sehingga kita diberi kesehatan jasmani maupun rohani sehingga kita dapat menyelesaikan tugas makalah PLH dengan baik dan juga secara bersama-sama tanpa ada kendala apapun, dengan kelompok yang sangat bekerja sesuai pekerjaan nya yang sudah dibagi-bagi terlebih dahulu.
            Dengan ada nya tugas makalah PLH ini kita dapat mengetahui bagaimana cara mengidenifikasi peninggalan budaya yang kami tugasi dari bapak guru tersebut. Yang dapat kelompok kami simpulkan adalah bahwa upacara panjalu merupakan bagian penghormatan warga Panjalu atas jasa-jasa para leluhur Panjalu, dengan membersihkan benda pusaka yang disakralkan masyarakat Ciamis khususnya keturunan Raja Panjalu.
Sekian saja yang dapat kelompok kami simpulkan dan juga kelompok kami mohon di maafkan bila ada salah kata atau cara penulisannya yang kurang baik atau kurang tersusun rapih dan juga tidak berkenan di hati pembaca. Kurang lebihnya kelompok kami mohon maaf.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar